Wajah Sepakbola Nasional

Kemarin sore saya menonton pertandingan sepakbola antara PSIM Yogyakarta melawan Persiter Ternate di sebuah stasiun tv swasta. Ada yang menarik dari pertandingan tersebut, kira-kira pada pertengahan babak kedua (saya lupa menit keberapa), Persiter Ternate diberi hadiah tendangan penalti oleh wasit yang memimpin pertandingan tersebut. Penalti tersebut memang kontroversial, dari tayangan lambat terlihat bahwa pemain PSIM Yogyakarta tidak melakukan pelanggaran apapun. Dan seperti biasa, spontan semua pemain dan official PSIM Yogyakarta melancarkan protes keras terhadap keputusan wasit tersebut. Awalnya hanya protes mulut, namun lama kelamaan wasit mulai didorong-dorong oleh para pemain PSIM Yogyakarta. Protes tersebut berlangsung cukup lama, dan yang menariknya adalah kiper dari PSIM Yogyakarta menolak untuk menjaga gawangnya dari tendangan penalti. Sang kiper malah berjalan ke arah official dan pelatih sambil mengecam keputusan wasit tersebut. Akhirnya seluruh pemain berkumpul di daerah official team untuk berembuk dan meminta saran dari sang pelatih. Dan anehnya sang pelatih justru menyuruh para pemainnya untuk tetap melanjutkan permainan namun dengan cara ”bermain pasif”. Lucu sekali sang pelatih yang harusnya menyuruh team nya untuk tetap bermain dan menjunjung tinggi fair play justu menyuruh team nya untuk bermain pasif. Sangat disayangkan pelatih dan para official tersebut tidak bisa berpikir dengan jernih namun ikut larut dengan emosi para pemainnya.

Namun yang sangat amat disayangkan ialah sang wasit yang diam seribu bahasa dan tdak melakukan tindakan apapun kepada para pemain dan official PSIM Yogyakarta yang tidak bersikap fair play. Padahal sang wasit baru saja terpilih menjadi wasit AFC, namun dia tidak menunjukkan kredibiltasnya sebagai wasit AFC. Dan pada pertandingan tersebut hadir wakil dari AFC untuk menonton jalannya pertandingan tersebut. Saya tidak tahu apakah setelah pertandingan tersebut, AFC akan mencabut keanggotaan wasit tersebt atau tidak.

Akhirnya setelah kurang lebih 15 menit pertandingan tertunda, tendangan penalti tersebut tetap dilaksanakan dan berbuah gol untuk Persiter Ternate dan mengubah kedudukan menjadi 1-0. Setelah gol tersebut pertandingan kembali berjalan dengan normal dan PSIM Yogyakarta tidak jadi bermain pasif. Namun seperti yang bisa kita duga, pertandingan tersebut berjalan dengan keras alias menjurus kasar, terutama dari para pemain PSIM Yogyakarta. Dan kembali lagi wasit tidak bisa mengambil keputusan tegas ketika ada beberapa pemain PSIM Yogyakarta yang beberapa kali melakukan pelanggaran keras dan pantas untuk diganjar kartu kuning, wasit tidak meniup peluit tanda terjadi pelanggaran. Pertandingan terus berjalan hingga pada menit ke-105 PSIM Yogyakarta berhasil mencetak gol dari kemelut yang terjadi di depan gawang dan mengubah skor menjadi sama kuat 1-1. Semenit setelah terjadi gol tersebut wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Miris sekali melihat wajah sepakbola nasional kita pada pertandingan tersebut. Seorang wasit juga manusia, bisa melakukan kesalahan. Namun yang disayangkan ialah sikap para pemain dan official PSIM Yogyakarta yang tidak menjunjung tinggi fair play, mereka justru berncana untuk bermain pasif. Bagaimana sepakbola kita mau maju jika pemain, pelatih, official, supporter dan wasit tidak bisa bersikap sportif.

Advertisements

About alvanalvian

my name is alvan
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s