Experience

Seminggu yang lalu saya di assign untuk menghadiri sebuah training di kantor, trainingnya berlangsung selama seminggu dan full day pula (walaupun sempet sih nyolong-nyolong waktu keluar buat ngurusin kerjaan lain :p ). Materi yang akan diberikan pada training tersebut sebenarnya lebih kepada technical aspect dsb, namun demikian di hari-hari awal training sang pemateri memberikan pemahaman mengenai business process dan business perspective. Nah, ada hal yang menarik yang dibahas pada hari pertama, yaitu tentang bagaimana memberikan sebuah nilai lebih pada suatu produk. Bahwa untuk meningkatkan nilai jual sebuah produk tidak serta merta harus meningkatkan kualitas, volume, teknologi dkk (yang bisa dikatakan pemahaman lama), namun bisa juga dengan pendekatan lain.

So, pada hari itu sang presenter memberikan sebuah contoh dan gambaran lain dari business perpective, fenomena starbucks. Pasti sering denger dan liat kan coffee shop yang satu ini.

Pada hari itu dia memberikan slide yang didalamnya kira-kira terdapat grafik seperti ini :

Dia menyampaikan bahwa, dulu mana ana orang yang mau bayar 5 USD (Rp. 40.000an) hanya untuk secangkir kopi dimana anda bisa mendapatkan kopi dengan harga beberapa sen di supermarket. But now, people are willing to pay 5 USD only for a cup of coffee. Why ? It’s the experience. You pay 5 USD for the experience you’ll have when you drink the coffee. Mulai dari anda masuk ke dalam merchant, memesan, membayar, mengambil pesanan sampai anda selesai meminum kopinya.  Mungkin harga kopinya ga jauh berbeda dengan yang ada di foodcourt, tapi anda membayar lebih untuk pengalaman itu. Nice…perpective yang keren buat saya yang backgroundnya dari teknik🙂

Kalau saya pribadi sih, untuk yang hot coffee, berhubung bukan pecinta kopi jadi ga gitu tau beda rasanya :p , kopi sachet would be enough. Tapi kalo yang Ice, emang enak sih, walaupun kadang mikir juga, kapitalis amat ya..wkwkwwk…

About alvanalvian

my name is alvan
This entry was posted in Catatan Harian and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Experience

  1. icyo says:

    betul banget, marketing yang menjual skrg adalah yang menjual experience..
    contoh lain adalah J-Co, coba perhatikan kalo di tiap donat nya itu ada temanya dan latar belakang namanya, yah seperti sinopsis gitu..kalo diliat sepintas sih biasa aja, tapi ternyata daya marketingnya tingg..karena pembeli tidak hanya beli produk, tapi plus experience, packaging, entertainment sekaligus🙂

  2. alvanalvian says:

    Yups..Bener banget..
    Brand Indonesia kalau mau sukses di luar negri harus bisa kasih experience yg bagus.. (selain productnya jg harus bagus tentunya)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s