Realita Hidup

Malam ini, sepulang tanding futsal antar divisi di kantor, saya pulang ke rumah menggunakan Patas AC 44 rute Ciledug – Senen. Nyaris tak ada yang istimewa pada malam ini, seperti biasa Patas ngetem cukup lama untuk menunggu penumpang di tikungan dekat Senayan City dan Plaza Senayan, maklum waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, penumpang yang ditunggu kebanyakan berasal dari SPG atau penjaga counter pada kedua mall tersebut. Patas yang awalnya kosong akan cukup terisi penuh bila ngetem cukup lama disana.

Dalam keadaan sedikit melamun, tiba-tiba masuk 3 orang anak kecil, yang saya taksir usianya tak lebih dari 7 tahun. Mereka pun mulai bertepuk dan bernyanyi, dimulai dari lagu mellow band – band yang lagi ngetop dan diakhiri dari sebuah lagu yang menarik perhatian saya. Lagu terakhir ini berjudul Diary Depresiku dari band Last Child. Ini kali kedua saya mendengar lagu tersebut, pertama kali saya mendengarnya di event konser ulang tahun LangitMusik bulan Maret lalu. Lagu broken home, itulah yang ada di benak saya saat pertama kali mendengar lagu tersebut. Lagu yang tidak akan bisa diciptakan tanpa dirasakan sendiri oleh penciptanya.

Berikut Video Clip dan liriknya :

Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yng ku harap tiada pernah terjadi

Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan

Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Entah kenapa ketika mendengar ketiga anak kecil tersebut menyanyikan lagu itu, saya pun terenyuh dan berpikir sejenak. Terkadang hidup memang tidak adil, manusia tidak dapat memilih dilahirkan dalam keluarga seperti apa, ningrat, darah biru, bangsawan, miskin, dsb. Sama seperti ketiga anak kecil ini yang tidak beruntung dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan “jalanan”. Lirik dari lagu tersebut merepresentasikan hal ini.

Setelah mereka mengamen dan memutarkan kecrekannya, mereka berdiri didekat saya dan mengobrol, saya lihat satu diantaranya nampak tidak enak badan, dan memutuskan untuk duduk di sebelah saya. Yang membuat saya kagum, mereka mungkin sudah mengamen sejak pagi, entah sudah makan apa belum, entah uang setoran mereka pada preman sudah terkumpul atau tidak, tapi mereka terlihat sangat tegar dalam melewati hari itu. Sebuah pemandangan yang membuat saya takjub, di usia belia seperti itu mereka sudah menjalani kerasnya hidup di ibukota. Singkat kata, mereka sudah bertempur di Medan perang semenjak usia dini, sedangkan saya baru mulai bertempur setelah lulus kuliah, itupun dengan segala fasilitas dan kenyamanan yang ada.

Who am i, asked for something more to god, because i feel like i had such a “boring and empty” life in the past few months because of my work load and single status.

Dengan apa yang saya miliki saat ini dan apa yang ketiga anak kecil itu alami, rasanya kok ga pantas buat saya untuk mengeluh. Saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Saya teringat kata-kata dari seorang teman yang kuliah di luar negeri, dia bercerita tentang teman kampusnya dari negara lain yang mengatakan hal ini :

Kamu, yang terpilih dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri memegang tanggung jawab dan amanah yang besar, karena masa depan IPTEK di negaramu nanti akan ditentukan oleh generasimu

Saya sadar bahwa ilmu yang saya miliki, kesempatan yang saya peroleh bukan hanya untuk “konsumsi” pribadi, ada amanah dan tanggung jawab kepada orang yang kurang beruntung, untuk memutuskan salah satu rantai kemiskinan dan kebodohan di negeri ini. Mungkin saat ini saya belum bisa melaksanakan hal itu, but one day i will. That’s a promise.

Advertisements

About alvanalvian

my name is alvan
This entry was posted in Catatan Harian and tagged . Bookmark the permalink.

10 Responses to Realita Hidup

  1. Muhammad Rahman Fajrin says:

    Hobby blogging y Van..
    Keren Van tulisannya..
    Segala sesuatunya bisa Kita mulai dr yg kecil Van..
    ^_^

  2. alvanalvian says:

    Wah..Makasih Fajrin..
    Iya nih, smoga bisa dimulai dari hal kecil dulu..

    Apa kabarnya di Pekanbaru?

  3. sastrowijoyo says:

    jantan lo emang van,, semangat terus van 😀

  4. alvanalvian says:

    Tengkyu Sas..

    Btw, the credits belongs to you, seinget gua itu quote’s dari lo ya.. 🙂

  5. annya says:

    🙂 semangat vano!

  6. ds says:

    because of my work load and single status..

    top

  7. alvanalvian says:

    @Annya
    Thx Nnya

    @Dana
    Hahaha..ampun gan..

  8. Cindy says:

    Nee bener2 cocok sama kehidupan ane gan. Bedanya ane gak hidup dijalanan, tapi ane hidup dirumah

  9. arikuncoro says:

    hehe… idem Dana.
    Tenang, Van. Apa yang kurang darimu, men. Ganteng, pinter, kerja di perusahaan bonafid. Tinggal kedip mata, status single jadi dobel, men.

    OK, good luck for your job and love and hope you can reach your goal right away.

    Salam.

  10. alvanalvian says:

    Hahaha..amiienn…
    Goodluck for you too..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s