H-2 Idul Fitri

Seperti ritual tahun-tahun sebelumnya, beberapa hari menjelang Lebaran gua pasti diajak nyokap untuk nemenin belanja bahan-bahan masakan untuk hari raya Idul Fitri. Gua lupa tepatnya kapan gua mulai diajak nemenin nyokap belanja ke pasar, mungkin sejak SMP. Biasanya pagi-pagi sekitar jam 6 udah dibangunin dan tanpa pake mandi langsung berangkat ke pasar Ciledug. Pernah liat anak-anak pasar yang biasanya nawarin bawain belanjaan ibu-ibu dengan kantung plastik merah besar? Tampang gua kurang lebih sama kayak mereka, bawa kantung plastik merah besar berisi belanjaan, badan kurus dan rambut masih kucel karena belom mandi, hahahaha…

So, hari ini gua kembali menjalani ritual tersebut, sekitar jam 10 kita berangkat ke pasar Ciledug, Namanya udah siang, bisa kebayang lah tuh pasar ramenya kayak apa. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek sampe anak kecil tumpah ruah di pasar traditional itu dan semua menyerbu bahan masakan yang kurang lebih sama. Yang namanya panas, sumpek, kesenggol, antrian diserobot udah menjadi hal yang lumrah disini.

Dari bukti TKP diatas, bisa dibayangkan lah ya dengan ukuran kios 3×3 meter persegi dan lebar gang/jalan yang hanya 1 meter saja, kalau ada 2 orang belanja di kios yang bersebrangan, maka jalan hanya muat untuk 1 orang, itu pun udah empet2an. Makanya kalo ada yang kesenggol, keinjek dllnya biasanya udah dimaafkan saja dan hebatnya sih orang-orang disini saling mengerti aja dan tidak menjadikan hal itu sebagai masalah.

Nah, kejadian pagi ini mengingatkan gua akan artikel yang sempet gua baca beberapa hari yang lalu di http://www.eramuslim.com/berita/bincang/muhaimin-iqbal.htm, bahwa keberadaan pasar tradisional terus menurun disaat pasar modern meningkat pesat.

Data dari APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia, red.) ternyata setiap tahun ada delapan pasar tradisional tutup diikuti ratusan kios lainnya, karena tidak bisa bersaing.

Sedangkan, setiap tahun pasar modern justru tumbuh mencapai 31 % dan pasar tradisonal minus 8 %. Maka pasar rakyat makin habis. Rakyat akhirnya makin menjadi konsumen, bukan jadi produsen atau penyedia barang.

Sebenernya, kalau dipikir-pikir barang-barang di pasar traditional ga kalah segar dibanding pasar modern, harganya pun bersaing, bahkan lebih murah (untuk bahan-bahan masakan). Mungkin salah satu kendala terbesarnya adalah fator kenyamanan berbelanja dan lokasi pasar. Sehingga kalangan menengah keatas lebih memilih untuk berbelanja di pasar modern yang nyaman, ber-AC dan mudah dijangkau. Selain itu mungkin untuk beberapa orang, membawa belanjaan dari mall dengan kantong plastik putih berlogo jauh lebih keren daripada belanja di pasar yang sumpek dengan kantung plastik kresek polos warna merah dan hitam.

Yaah, andai saja ada pemerintah mau membangun pasar tradisional dengan sarana dan prasarana yang baik serta dikelola secara profesional mungkin masyarakat menengah keatas mau berbelanja di pasar tradisional. Sediakan tempat yang luas bagi banyak pedagang, ga ada pungutan liar, tempat yang bersih, sarana parkir yang luas, akses yang mudah, dllnya. Sehingga hal ini bisa memakmurkan pedagang lokal bukan memakmurkan kaum investor luar dan kapitalis.

Semoga saja Pasar Rakyat yang dirintis oleh Pak Muhaimin Iqbal dengan nama Bazar Madinah bisa berhasil dan membuat pemerintah dan banyak pihak sadar.

We should never lose hope, shouldn’t we?

Advertisements

About alvanalvian

my name is alvan
This entry was posted in Catatan Harian and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to H-2 Idul Fitri

  1. Yes, we shouldn’t! Ayo kita dukung pasar traditional 😀

  2. Asop says:

    Maapkan saya lahir dan batin ya…. 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s